Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2013

Di banyak ayat, Allah swt dengan tegas telah mencela orang-orang yang mengikutkan persangkaannya dalam masalah keyakinan (‘aqidah). Adanya celaan dari Allah swt, menunjukkan bahwa perbuatan tersebut –mengikuti dzan dalam masalah keyakinan (‘aqidah)–terkategori perbuatan yang diharamkan Allah swt. Al-Quran dengan sangat jelas, telah menunjukkan pengertian semacam ini Allah swt berfirman,”

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.”[QS. al-Najm:23] (lebih…)

Read Full Post »

Dalam prakteknya, para ahli hadits sendiri berbeda-beda dalam menilai suatu riwayat, apakah mutawatir atau tidak, shahih atau tidak. Perbedaan penilaian ini disebabkan banyak factor, diantaranya adalah perbedaan dalam menetapkan kriteria kemutawatiran suatu berita, penilaian terhadap personalitas perawi, dan perbedaan dalam hal ushulul hadits.

‘Ulama hadits berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah perawi yang bisa mengantarkan kemutawatiran suatu berita.[ Imam Syaukani, Irsyaad al-Fuhuul ila Tahqiiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushuul, hal.47 ] (lebih…)

Read Full Post »

Secara ‘aqliy, ketika anda menyaksikan suatu peristiwa secara langsung, dan terlibat di dalamnya, anda pasti akan menyakini kebenaran peristiwa yang anda saksikan tersebut. Sebab, peristiwa tersebut menyakinkan dari sisi anda. Namun, ketika anda menyampaikan peristiwa itu kepada orang yang tidak menyaksikannya secara langsung, tentu orang itu tidak langsung mempercayai ucapan anda, meskipun anda sangat yakin dengan peristiwa itu. Peristiwa tersebut hanya menyakinkan dari sisi anda, namun tidak bagi orang yang tidak menyaksikan peristiwa itu secara langsung. Untuk itu diperlukan itsbat (penetapan) untuk membuktikan berita yang anda sampaikan, apakah berita itu benar-benar menyakinkan atau tidak. (lebih…)

Read Full Post »

Para shahabat telah mensyaratkan jumlah tertentu pada saat melembagakan al-Quran di dalam mushhaf Imam.

Kami juga akan memaparkan riwayat-riwayat yang menyatakan, bahwa tatkala mengumpulkan al-Quran al-Karim pada masa Abu Bakar ra, para shahabat telah
mensyaratkan jumlah tertentu, hingga riwayat mereka dianggap sebagai al-Quran. Ibnu Abi Dawud dalam Mashahif dari Abu Bakr, meriwayatkan, “Sesungguhnya Abu Bakar memerintahkan kepada ‘Umar dan Zaid ra agar keduanya duduk di pintu masjid, dan memerintahkan keduanya agar siapapun yang membawa sesuatu dari al-Quran dengan membawa dua orang saksi, maka keduanya harus mencatatnya”. (lebih…)

Read Full Post »

Ijma’ shahabat tatkala mengumpulkan al-Quran al-Kariim.

Bila anda perhatikan dengan seksama proses pengumpulan al-Quran dalam mushhaf Imam, maka anda akan berkesimpulan bahwa riwayat ahad tidak bisa digunakan hujjah dalam perkara-perkara yang membutuhkan keyakinan (aqidah). Bahkan, bersikeras dengan pendapat yang menyatakan, bahwa khabar ahad harus diyakini dan wajib dijadikan hujjah dalam perkara ‘aqidah justru akan berimplikasi serius bagi kesucian dan kebersihan ‘aqidah Islam itu sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Berikut adalah beberapa kutipan pendapat dari ulama’ mengenai hadits ahad.

Al-Ghazali berkata, ‘Khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan. Masalah ini –khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan—merupakan perkara yang sudah dimaklumi. Apa yang dinyatakan sebagian ahli hadits bahwa ia menghasilkan ilmu, barangkali yang mereka maksud dengan menghasilkan ilmu adalah kewajiban untuk mengamalkan hadits ahad. Sebab, dzan kadang-kadang disebut dengan ilmu.”[ Ibid, hal.64. Lihat, Imam al-Ghazali, al-Mustashfa, hal.116 ] (lebih…)

Read Full Post »

Ahad menurut bahasa mempunyai arti “satu”. Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan Hadits Ahadmenurut istilah adalah “hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir”. Hadits ahad terbagi menjadi 3 macam, yaitu : Masyhur‘Aziz, dan Gharib. (lebih…)

Read Full Post »

Iman Dalam Tinjauan Bahasa

Secara literal, ‘aqidah berasal dari kata ‘aqada yang bermakna al-habl, al-bai’, dan al-‘ahd (tali, jual beli, dan perjanjian).[ Mohammad Ibnu Abiy Bakar al-Raaziy, Mukhtaar al-Shihaah, Daar al-Fikr, 1401 H/1971 M, hal.444. Bila dikatakan I’taqada fulaan al-amr (seseorang telah beri’tiqad terhadap suatu perkara), maknanya adalah, shadaqahu, wa ‘aqada ‘alaihi qalbuhu, wa dlamiiruhu, (seseorang itu telah membenarkan perkara tersebut, hatinya telah menyakininya, dan ia telah bersandar kepada perkara tersebut). Lihat al-Mu’jam al-Wasith, jilid I, bab ‘aqada ] (lebih…)

Read Full Post »

By  Kang Udo

Cahaya siang  terlihat  mulai redup, waktu menunjukan pukul 16.00 waktu Suriah. Setidaknya itu perkiraan Ummu Salim dlm menebak waktu ketika ia mengintip suasana diluar melalui lubang angin-angin bunker. Jam bulat tanpa merk dengan hiasan kaligrafi kalimat Syahadat  yang biasa menempel didinding sudah tergeletak dilantai, hancur berantakan bersama reruntuhan beton yang ambruk di hantam peluru Tank T-72 milik Rezim 2 minggu lalu, padahal itu barang kenang-kenangan yang tersisa dari adik laki-lakinya yang tinggal di Aleppo.. (lebih…)

Read Full Post »