Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli 17th, 2013

akhwat1Shaum Ramadhan salah satu ibadah yang tata cara pelaksanaannya sudah ditentukan Allaahu Ta’ala dan diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (bersifat tauqifiyah).  Kaum muslim diperintahkan untuk melaksanakannya tanpa mengurangi dan menambahnya.  Manusia tidak boleh mencari-cari hikmah dan manfaat ataupun alasan di balik pelaksanaan ibadah tersebut, kecuali apa yang telah disebutkan di dalam nash-nash Syara.  Oleh karena itu,  kaum muslim wajib mengikuti semua bentuk perincian ibadah Shaum dengan mengacu pada al-Qur’an maupun as-Sunnah. Dan bilamana hal itu dilaksanakan dengan benar dan hanya mengharapkan ridha Allaahu Ta’ala maka Shaumnya akan meningkatkan derajat ketaqwaannya.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

batalAda sebuah pertanyaan, apakah muntah karena mabuk perjalanan atau karena hamil bisa membatalkan puasa. Apakah berobat dengan disuntik  termasuk Tetes Mata atau Tetes Telinga membuat puasa saya batal, Apakah mencium istri, Mencicipi masakan dan Mimpi Basah bisa membatalkan puasa? Apakah kasus diatas tersebut masih merupakan bagian dari Pembatal-Pembatal Puasa ? Insya Allaah inilah penjelasan para Ulama yang bisa saya sampaikan terkait masalah ini. (lebih…)

Read Full Post »

ibuhamil

Oleh : Ustadz Shiddiq al Jawi

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukum puasa Ramadhan bagi perempuan yang sedang hamil, menyusui, atau melahirkan?

NN, Jakarta

 

Jawab :

Perempuan yang melahirkan dan darah nifasnya masih mengalir, tak boleh berpuasa Ramadhan, karena di antara syarat sah puasa adalah suci dari nifas. Jika darah nifas sudah berhenti mengalir, dan masih dalam bulan Ramadhan, dia wajib kembali berpuasa Ramadhan. Jika berhentinya darah nifas sebelum waktu Subuh lalu dia baru mandi setelah masuknya waktu Subuh, puasanya sah. Inilah pendapat jumhur ulama, kecuali pendapat sebagian ulama seperti Imam Auza’i, juga salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Maliki, yang mensyaratkan mandi sebelum masuk waktu Subuh. Namun yang rajih (kuat) pendapat jumhur ulama. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/616; Mahmud Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 45). (lebih…)

Read Full Post »